Jumat, 05 November 2010

KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 3 NOVEMBER 2010

KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 3 NOVEMBER 2010


Telah terjadi erupsi lanjutan G. Merapi pada hari Rabu 3 November 2010 dengan kronologi sebagai berikut:

1. Pukul 11.11-13.19 WIB terjadi awan panas beruntun dengan durasi maksimum 2 menit. Sementara cuaca dalam keadaan kabut dan hujan, sehingga tidak bias melihat keadaan puncak G. Merapi.

2. Pukul 13.27 WIB dan 13.30 WIB terjadi gempa vulkanik dangkal (VB) sebanyak 2 kali

3. Pukul 14.00-14.03 WIB terjadi guguran besar beruntun sebanyak 4 kali, durasi makimum 1 menit

4. Pukul 14.04 – 14.27 WIB terjadi rentetan awan panas dengan durasi maksimum 5 menit. Diperkirakan jarak luncur awan panas lebih dari 10 km, sehingga diputuskan untuk memperluas daerah aman hingga di luar radius 15 km

5. Pukul 14.44 WIB terjadi awanpanas besar selama 1,5 jam

6. Pukul 16.23 WIB aktivitas mulai reda

7. Pukul 17.30 WIB dilaporkan bahwa awan panas mencapai 9 km di alur K. Gendol. 

KEPUTUSAN PERLUASAN DAERAH AMAN MERAPI PER 3 NOVEMBER 2010

KEPUTUSAN PERLUASAN DAERAH AMAN MERAPI PER 3 NOVEMBER 2010

Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 3 Novemeber 2010 dari Pukul 12:00 WIB sampai dengan pukul 18:00 WIB menunjukkan aktivitas G Merapi masih tinggi’ dengan ditunjukan adanya awanpanas beruntun. Maka pada pukul 16:05 WIB diputuskan untuk memperluas daerah aman diluar radius 15 km dari puncak G. Merapi. Status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4).

KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 1 NOVEMBER 2010

KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 1 NOVEMBER 2010


Berikut ini, dipaparkan kronologis Letusan:

- Letusan diawali dengan adanya gempa low frequency pada pukul 09.47 WIB
- Diikuti dengan guguran dari ukuran kecil hingga sedang antara 09.50 WIB
- Guguran besar terjadi 10.00-10.02 WIB Beruntut diikuti awan panas pertama 10.03-10.05 WIB
- Awanpanas kedua menyusul pukul 10.05-10.08 WIB.
- Awanpanas ketiga terjadi pukul 10.20-10.24 WIB
- Awanpanas keempat 10.56-10.59 WIB
- Awanpanas kelima 11.00- 11.02 WIB
- Awanpanas keenam 11.45-11.47 WIB
- Sebagian besar arah awanpanas mengalir ke Kali Gendol dan Kali Woro dengan jarak luncur 4 km (sampai ke Bukit Kendil)
- Asap sulfatara putih dan asap coklat pekat meluncur vertikal ke atas dengan ketinggian 1,5 km
- Arah angin bertiup ke Timur dan Utara.


Sumber: BPPTK

Selasa, 02 November 2010

SEJARAH MERAPI


SEJARAH GEOLOGI
Hasil penelitian stratigrafi menunjukkan sejarah terbentuknya Merapi sangat kompleks. Wirakusumah (1989) membagi Geologi Merapi menjadi 2 kelompok besar yaitu Merapi Muda dan Merapi Tua. Penelitian selanjutnya (Berthomier, 1990; Newhall & Bronto, 1995; Newhall et.al, 2000) menemukan unit-unit stratigrafi di Merapi yang semakin detil. Menurut Berthommier,1990 berdasarkan studi stratigrafi, sejarah Merapi dapat dibagi atas 4 bagian :

PRA MERAPI (+ 400.000 tahun lalu)
 
Disebut sebagai Gunung Bibi dengan magma andesit-basaltik berumur ± 700.000 tahun terletak di lereng timur Merapi termasuk Kabupaten Boyolali. Batuan gunung Bibi bersifat andesit-basaltik namun tidak mengandung orthopyroxen. Puncak Bibi mempunyai ketinggian sekitar 2050 m di atas muka laut dengan jarak datar antara puncak Bibi dan puncak Merapi sekarang sekitar 2.5 km. Karena umurnya yang sangat tua Gunung Bibi mengalami alterasi yang kuat sehingga contoh batuan segar sulit ditemukan.
 
MERAPI TUA (60.000 - 8000 tahun lalu)

Pada masa ini mulai lahir yang dikenal sebagai Gunung Merapi yang merupakan fase awal dari pembentukannya dengan kerucut belum sempurna. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan Plawangan berumur sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya terdiri dari batuan dengan komposisi andesit basaltic dari awanpanas, breksiasi lava dan lahar.
MERAPI PERTENGAHAN (8000 - 2000 tahun lalu)

Terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun bukit Batulawang dan Gajahmungkur, yang saat ini nampak di lereng utara Merapi. Batuannya terdiri dari aliran lava, breksiasi lava dan awan panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan "de¬bris-avalanche" ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal-kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Pada periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.
MERAPI BARU (2000 tahun lalu - sekarang)

Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi yang saat ini disebut sebagai Gunung Anyar yang saat ini menjadi pusat aktivitas Merapi. Batuan dasar dari Merapi diperkirakan berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur sekitar 2000 tahun. Letusan besar dari Merapi terjadi di masa lalu yang dalam sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang terletak ± 23 km selatan dari Merapi. Studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999) telah menunjukkan bahwa beberapa letusan besar, dengan indek letusan (VEI) sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu. Letusan besar terakhir dengan sebaran yang cukup luas menghasilkan Selokopo tephra yang terjadi sekitar sekitar 500 tahun yang lalu. Erupsi eksplosif yang lebih kecil teramati diperkirakan 250 tahun lalu yang menghasilkan Pasarbubar tephra. Skema penampang sejarah geologi Merapi menurut Berthommier, 1990 (gambar kanan).
 


Peta menunjukkan sebaran endapan awanpanas Merapi 1911-2006. Hanya wilayah timur lereng yang bebas dari arah aliran awapanas dalam kurun waktu tersebut.


SEJARAH ERUPSI  


Tipe erupsi Gunung Merapi dapat dikategorikan sebagai tipe Vulkanian lemah. Tipe lain seperti Plinian (contoh erupsi Vesuvius tahun 79) merupakan tipe vulkanian dengan daya letusan yang sangat kuat. Erupsi Merapi tidak begitu eksplosif namun demikian aliran piroklastik hampir selalu terjadi pada setiap erupsinya. Secara visual aktivitas erupsi Merapi terlihat melalui proses yang panjang sejak dimulai dengan pembentukan kubah lava, guguran lava pijar dan awanpanas (pyroclastic flow).
Merapi termasuk gunungapi yang sering meletus. Sampai Juni 2006, erupsi yang tercatat sudah mencapai 83 kali kejadian. Secara rata-rata selang waktu erupsi Merapi terjadi antara 2 – 5 tahun (periode pendek), sedangkan selang waktu periode menengah setiap 5 – 7 tahun. Merapi pernah mengalami masa istirahat terpanjang selama >30 tahun, terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunungapi. Memasuki abad 16 kegiatan Merapi mulai tercatat cukup baik. Pada masa ini terlihat bahwa waktu istirahat terpanjang pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 sampai dengan tahun 1658.

Sejarah letusan gunung Merapi mulai dicatat (tertulis) sejak tahun 1768. Namun demikian sejarah kronologi letusan yang lebih rinci baru ada pada akhir abad 19. Ada kecenderungan bahwa pada abad 20 letusan lebih sering dibanding pada abad 19. Hal ini dapat terjadi karenapencatatan suatu peristiwa pada abad 20 relatif lebih rinci. Pemantauan gunungapi juga baru mulai aktif dilakukan sejak awal abad 20. Selama abad 19 terjadi sekitar 20 letusan, yang berarti interval letusan Merapi secara rata-rata lima tahun sekali. Letusan tahun 1872 yang dianggap sebagai letusan terakhir dan terbesar pada abad 19 dan 20 telah menghasilkan Kawah Mesjidanlama dengan diameter antara 480-600m. Letusan berlangsung selama lima hari dan digolongkan dalam kelas D. Suara letusan terdengar sampai Kerawang, Madura dan Bawean. Awanpanas mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol. Awanpanas dan material produk letusan menghancurkan seluruh desa-desa yang berada di atas elevasi 1000m. Pada saat itu bibir kawah yang terjadi mempunyai elevasi 2814m (;bandingkan dengan saat ini puncak Merapi terletak pada elevasi 2968m). Dari peristiwa-peristiwa letusan yang telah lampau, perubahan morfologi di tubuh Gunung dibentuk oleh lidah lava dan letusan yang relatif lebih besar. Gunung Merapi merupakan gunungapi muda. Beberapa tulisan sebelumnya menyebutkan bahwa sebelum ada Merapi, telah lebih dahuiu ada yaitu Gunung Bibi (2025m), lereng timurlaut gunung Merapi. Namun demikian tidak diketahui apakah saat itu aktivitas vulkanik berlangsung di gunung Bibi. Dari pengujian yang dilakukan, G. Bibi mempunyai umur sekitar 400.000 tahun artinya umur Merapi lebih muda dari 400.000 tahun. Setelah terbentuknya gunung Merapi, G. Bibi tertimbun sebagian sehingga saat ini hanya kelihatan sebagian puncaknya. Periode berikutnya yaitu pembentukan bukit Turgo dan Plawangan sebagai awal lahirnya gunung Merapi. Pengujian menunjukkan bahwa kedua bukit tersebut berumur sekitar maksimal 60.000 tahun (Berthomrnier, 1990). Kedua bukit mendominasi morfologi lereng selatan gunung Merapi.
Pada elevasi yang lebih tinggi lagi terdapat satuan-satuan lava yaitu bukit Gajahmungkur, Pusunglondon dan Batulawang yang terdapat di lereng bagian atas dari tubuh Merapi. Susunan bukit-bukit tersebut terbentuk paling lama pada, 6700 tahun yang lalu (Berthommier,1990). Data ini menunjukkan bahwa struktur tubuh gunung Merapi bagian atas baru terbentuk dalam orde ribuan tahun yang lalu. Kawah Pasarbubar adalah kawah aktif yang menjadi pusat aktivitas Merapi sebelum terbentuknya puncak.
Diperkirakan bahwa bagian puncak Merapi yang ada di atas Pasarbubar baru terbentuk mulai sekitar 2000 tahun lalu. Dengan demikian jelas bahwa tubuh gunung Merapi semakin lama semakin tinggi dan proses bertambahnya tinggi dengan cepat nampak baru beberapa ribu tahun lalu. Tubuh puncak gunung Merapi sebagai lokasi kawah aktif saat ini merupakan bagian yang paling muda dari gunung Merapi. Bukaan kawah yang terjadi pernah mengambil arah berbeda-beda dengan arah letusan yang bervariasi. Namun demikian sebagian letusan mengarah ke selatan, barat sampai utara. Pada puncak aktif ini kubah lava terbentuk dan kadangkala terhancurkan oleh letusan. Kawah aktif Merapi berubah-ubah dari waktu ke waktu sesuai dengan letusan yang terjadi. Pertumbuhan kubah lava selalu mengisi zona-zona lemah yang dapat berupa celah antara lava lama dan lava sebelumnya dalam kawah aktif Tumbuhnya kubah ini ciapat diawali dengan letusan ataupun juga sesudah letusan. Bila kasus ini yang terjadi, maka pembongkaran kubah lava lama dapat terjadi dengan membentuk kawah baru dan kubah lava baru tumbuh dalam kawah hasil letusan. Selain itu pengisian atau tumbuhnya kubah dapat terjadi pada tubuh kubah lava sebelumnya atau pada perbatasan antara dinding kawah lama dengan lava sebelumnya. Sehingga tidak mengherankan kawahkawah letusan di puncak Merapi bervariasi ukuran maupun lokasinya. Sebaran hasil letusan juga berpengaruh pada perubahan bentuk morfologi, terutama pada bibir kawah dan lereng bagian atas. Pusat longsoran yang terjadi di puncak Merapi, pada tubuh kubah lava biasanya pada bagian bawah yang merupakan akibat dari terdistribusikannya tekanan di bagian bawah karena bagian atas masih cukup kuat karena beban material.
Lain halnya dengan bagian bawah yang akibat dari desakan menimbulkan zona-zona lemah yang kemudian merupakan pusat-pusat guguran. Apabila pengisian celah baik oleh tumbuhnya kubah masih terbatas jumlahnya, maka arah guguran lava masih dapat terkendali dalam celah yang ada di sekitarnya. Namun apabila celah-celah sudah mulai penuh maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan tumbuhnya kubah. Sehingga pertumbuhan kubah lava yang sifat menyamping (misal, periode 1994 - 1998) akan mengakibatkan perubahan arah letusan. Perubahan ini juga dapat terjadi pada jangka waktu relatif pendek dan dari kubah lava yang sama. Pertumbuhan kubah lava ini berkembang dari simetris menjadi asimetris yang berbentuk lidah lava. Apabila pertumbuhan menerus dan kecepatannya tidak sama, maka lidah lava tersebut akan mulai membentuk morfologi bergelombang yang akhirnya menjadi sejajar satu sama lain namun masih dalam satu tubuh. Alur pertumbuhannya pada suatu saat akan mencapai titik kritis dan menyimpang menimbulkan guguran atau longsoran kubah. Kronologi semacam ini teramati pada th 1943 (April sampai Mei 1943).
Penumpukan material baru di daerah puncak akibat dari pertumbuhan kubah terutama terlihat dari perubahan ketinggian maksimum dari puncak Merapi. Beberapa letusan yang dalam sejarah telah mengubah morfologi puncak antara lain letusan periode 18221823 yang menghasilkan kawah berdiameter 600m, periode 1846 - 1848 (200m), periode 1849 (250 - 400m), periode 1865 - 1871 (250m), 1872 - 1873 (480 - 600 m), 1930, 1961.



Sketsa penampang skematik evolusi Merapi sejak jaman Pra-Merapi sampai saat ini menurut Berthommier (1990).

ANEKA PETA GUNUNG BERAPI DI INDONESIA

Peta KRB Merapi

Download 22757 KB

Citra Landsat 1994

Download 361 KB
Pameran

Field Instruments Map

Download 784 KB

Peta Endapan Awanpanas

Download 1640 KB

Peta Endapan Awanpanas 2006

Download 579 KB

Peta Jalur Tektonik

Download 332 KB

Peta kubah dan grafik pertumbuhan kubah

Download 52 KB

Peta Merapi Merbabu relief

Download 878 KB

Peta Pengamatan Kubah Lava-Fotografi

Download 95 KB

Peta Sebaran AP 1911-2006-buku 01

Download 1385 KB

Peta Sebaran Awanpanas 2006

Download 1284 KB

Peta sebaran gunung api Indonesia

Download 3324 KB

Peta sebaran stasiun TLR

Download 1678 KB

Peta struktur puncak

Download 732 KB

Ring of Fire

Download 1077 KB

Risk Index Ranking

Download 322 KB

Situasi puncak dan stasiun pengamatan

Download 670 KB

Topo puncak 1992

Download 224 KB

Trayektori Kinematik Final Edit

Download 176 KB
Sumber : BPPTK

KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 26 OKTOBER . 30 OKTOBER DAN 31 OKTOBER 2010

KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 26 OKTOBER 2010

Telah terjadi letusan Gunung Merapi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010 dengan kronologi sebagai berikut:

1.    Pukul 17.02 mulai terjadi awan panas selama 9 menit

2.    Pukul 17.18 terjadi awan panas selama 4 menit

3.    Pukul 17.23 terjadi awan panas selama 5 menit

4.    Pukul 17.30 terjadi awan panas selama 2 menit

5.    Pukul 17.37 terjadi awan panas selama 2 menit

6.    Pukul 17.42 terjadi awan panas besarb selama 33 menit

7.    Pukul 18.00 sampai dengan 18.45 terdengar suara gemuruh dari Pos Pengamatan Merapi di Jrakah dan Selo

8.     Pukul 18.10, pukul 18.15, pukul 18.25 terdengan suara dentuman

9.     Pukul 18.16 terjadi awan panas selama 5 menit

10.   Pukul 18.21 terjadi awan panas besar selama 33 menit

11.   Dari pos Pengamatan Gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Gunung Merapi

12.   Pukul 18.54 aktivitas awan panas mulai mereda

13.   Luncuran awan panas mengarah kesektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara

Gambar rekaman seismik digital G. Merapi 26 Oktober 2010 pukul 09.00 - 21.00 WIB
 
Gambar seismik digital G. Merapi 25 - 26 Oktober 2010 pukul 09.00 - 21.00 WIB sebelum terjadi awan panas


Catatan :  keterangan waktu dalam WIB


Kronologi ini dikutip dari Kronologi Letusan Gunung Merapi Tanggal 26 Oktober 2010  yang dikeluarkan oleh a.n Kepala Badan Geologi, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Kronologi Letusan Gunung Merapi Tanggal 26 Oktober 2010  yang dikeluarkan oleh a.n Kepala Badan Geologi, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.




KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 30 OKTOBER 2010




-    Tanggal 29 Oktober 2010 pukul 19:23, 20:20, 21:40 WIB terjadi awan panas kecil-sedang arah ke K. Lamat, K. Senowo, K. Krasak.



-    Tanggal 30 Oktober 2010 pukul 00:16 WIB terjadi awan panas besar dengan durasi 7 menit ke arah K. Lamat, K. Senowo, K. Krasak.



-    Pukul 00:35 WIB terjadi awan panas besar dengan durasi 22 menit ke arah K. Gendol, K. Kuning, K. Krasak, K. Boyong.



-    Pada pukul 00:50 WIB terjadi ledakan di puncak. Bola api / letusan vertikal mencapai radius 2 km tampak dari Pos Selo, Jrakah, Ngepos, dan Kaliurang. Ketinggian asap mencapai 3,5 km. Getaran letusan dapat dirasakan oleh penduduk yang beradius 12 km (Desa Srumbung/Barat Daya G. Merapi).



-    Hujan pasir mencapai radius 10 km (Desa Hargobinangun), sedangkan hujan abu dilaporkan terjadi di Desa Krasak Kabupaten Bantul.


KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 31 OKTOBER 2010



-    Terjadi gempa vulkanik 14.28 WIB. Diikuti dengan kejadian awan panas berdurasi 4 menit.


-    Pukul 15:16 WIB kembali terjadi awan panas letusan durasi 5 menit yang disertai suara dentuman dan gemuruh terdengar dari Babadan dan Selo.. Arah awan panas menuju Kali Gendol (terpantau dari Kaliurang). Getaran terasa di Babadan dan Selo.


-    Pada 15.23 WIB terjadi kembali awan panas dengan intensitas sedang berdurasi 3 menit menuju Kali Lamat, Senowo, Krasak, dan Gendol.  Luncuran terjauh menuju Kali Gendol.


-    Dari Jrakah dilaporkan, awanpanas meluncur ke kali Apu sejauh 1,5 km dan Kali Senowo sejauh 2 km.


 Sumber: BPPTK

Jumat, 22 Oktober 2010

Simulasi Evakuasi di Deles Indah Jelang Letusan Merapi.


TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Ribuan warga yang bermukim di lereng timur/tenggara gunung Merapi hingga Jumat (22/10), masih tenang dan beraktivitas seperti biasa meski level gunung paling aktif di dunia itu di level Siaga.



"Namun warga sangat waspada. Aktivitas berkebun, mencari rumput, berternak, dan tambang galian C (pasir dan batu) tetap berjalan," kata Indriarto, salah seorang anggota tim SAR Daerah Klaten ketika dihubungi dari Kota Yogya, Jumat (22/10/2010) sore.

Status Siaga yang berarti Merapi hanya perlu naik satu level lagi di tingkat Awas ketika fase erupsi terjadi memang telah mendorong semua elemen dan stake holder di Klaten bersiaga. "Kami berhimpun mengantisipasi erupsi Merapi," imbuh Indit, sapaan akrab alumni FH UNS yang kini bergiat mendampingi masyarakat menghadapi bencana alam ini.

"Hari ini kita lakukan pelatihan dan simulasi evakuasi melibatkan masyarakat di Deles. Koordinasi juga terus kami lakukan dengan BPPTK Yogyakarta, khususnya monitoring aktivitas Merapi sehingga bisa kami sampaikan langsung secara akurat ke masyarakat," ujar pria yang pernah malang melintang di dunia pertambangan ini.

"Ini penting karena warga kerap terkaget-kaget mendengar dan menyaksikan informasi di media elektronik," katanya sembari menyebutkan anggota SAR Daerah Klaten dan relawan ditempatkan bergiliran di beberapa lokasi yang kawasan rawan bahaya I.

Selain memantau Merapi, tim aktivis dan SAR Klaten terus memberi pendampingan kepada masyarakat, terutama terkait mitigasi bencana alam gempa bumi. Pilot project-nya ada di daerah Pesu, Kecamatan Wedi, Klaten, yang pernah dikoyak gempa hebat terusan gempa Yogya pada tahun 2006.(*)





TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Tim Search and Rescue (SAR) Klaten dan aparat pemerintahan setempat terus meningkatkan kewaspadaan menyusul dinaikkannya status bahaya gunung Merapi dari tingkat "Waspada" menjadi "Siaga" sejak Kamis (21/10) petang. Level ini hanya satu tingkat di bawah puncak status ketika gunung itu mencapai fase erupsi (letusan).



Pada Jumat (22/10/2010) siang, satu tim terdiri SAR dan relawan mulai mendirikan pos pantau dan bantuan darurat di kawasan Deles Indah, Desa Sidorejom, Kecamatan Kemalang. Ini termasuk wilayah terdekat di lereng timur/tenggara gunung paling aktif di dunia yang berlokasi di tapal batas empat kabupaten di DIY dan Jateng itu.

"Kami bergerak ke Deles Indah siang ini bersama tim Pemkab Klaten. Ini sebagai antisipasi kemungkinan meletusnya Merapi yang levelnya naik jadi Siaga sejak Kamis. Hari ini kami gelar latihan dan simulasi evakuasi," kata Indriarto, salah seorang anggota tim SAR dan relawan bantuan bencana Klaten di Deles Indah ketika dihubungi Tribun dari Kota Yogya, Jumat siang.

Deles Indah merupakan salah satu obyek wisata alam di Klaten yang terletak di sekitar 25 km dari Kota Klaten. Daerah ini berketinggian antara 800-1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung Merapi sendiri memiliki ketinggian 2.968 mdpl. Gunung berjenis strato itu terakhir meletus tanggal 8 Juni 2006.

Pada pukul 09.03 WIB, kubah lava di bagian selatan/tenggara puncak gunung runtuh, dan Merapi meluncurkan awan panas ke hulu Kali Gendol. Letusan kedua terjadi hari itu pukul 09.40 WIB, menimbulkan luncuran awan panas sejauh 5 kilometer ke Kaliadem, membakar sebagian besar kawasan hutan wisata di Kabupaten Sleman.

Tercatat dua orang relawan bencana Merapi, Warjono dan Sudarwanto, tewas dalam peristiwa ini. Keduanya terpanggang saat menyelamatkan diri ke bunker beton Kaliadem, ketika awan panas bersuhu ratusan derajat Celsius, yang sering dijuluki "wedhus gembel", menyapu kawasan itu.(*)


Merapi Tak Pernah Ingkar Janji










Terhitung sejak pukul 18.00, Kamis, 21 Oktober 2010, Balai Penyelidikan 
dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta meningkatkan
status Gunung Merapi dari WASPADA ke SIAGA. (Semoga Merapi bisa diajak kompromi, biar tidak terjadi sesuatu yg tidak kita inginkan) Avignam Jagad Samagram...!!!



TEMPO Interaktif, Jakarta - Istana mengirim utusannya untuk bertemu Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, tiga hari lalu.
"Terkait bencana, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, kearifan lokal juga penting. Semuanya harus kita lakukan untuk meminimalisir korban," ujar Staf Khusus Presiden untuk Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief
 via telepon, Jumat (22/10).
Andi mengutus dua stafnya menyambangi Mbah Maridjan untuk meminta pendapatnya tentang kondisi Merapi. Kuncen gunung tersebut saat itu mengatakan belum ada tanda-tanda Merapi bakal meletus.
Kemarin (21/10) Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta meningkatkan status gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu dari waspada ke siaga. Status naik menjadi lebih gawat akibat tingkat deformasi, gempa vulkanik, dan gas vulkanik meningkat signifikan dibanding beberapa hari sebelumnya.
Menurut Andi, rencana bertamu ke Mbah Maridjan itu telah dilaporkan sebelumnya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden meminta Mbah Maridjan mengutamakan keselamatan masyarakat.
"Kita tidak mau kejadian tahun 2006 terulang, saat tim ahli ribut dengan Mbah Maridjan, lalu ternyata ada gempa. Kita padukan ilmu dan sixth sense Mbah Maridjan," katanya.
Andi menegaskan komando tetap ada di Pusat Vulkanologi untuk menentukan status Merapi dan apakah masyarakat harus segera mengungsi. Jika bencana terjadi, ucapnya, saat tanggap darurat maka tim ahli beserta Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan pemerintahan daerah setempat akan menetapkan status bencana dan berapa lama tanggap darurat berlangsung.
Aparat Desa di lereng Merapi menyebutkan belum menerima peringatan resmi terkait peningkatan status Merapi dari waspada menjadi siaga, Jumat (22/10). Hingga saat ini, warga masih menjalankan aktivitas seperti biasa.Seberapa besar ya pemerintah sebagai pejabat negara yang katanya pintar2 percaya sama mbah maridjan...









Rabu, 20 Oktober 2010

Menulis Diatas Pasir...

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, karena sesuatu sebab mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir; HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu; HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?"

Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik dengan suami /isteri, kekasih, adik / kakak, kolega, dll, karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Manfaat positif dari continuous relationship mungkin sekali jauh lebih besar ketimbang kekecewaan masa lalu. Nobody's perfect.
Belajarlah menulis di atas pasir.