Selasa, 06 November 2012

Pemkab Klaten Kucurkan Rp 1 Miliar ke Warga Merapi

Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto Klaten – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten menyalurkan bantuan Rp 1 miliar kepada warga terdampak langsung erupsi Merapi 2010 di Desa Balerante, wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (5/11). Bantuan itu guna membantu pemulihan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Bantuan tersebut diberikan langsung oleh Bupati Klaten Sunarno kepada perwakilan 14 desa, enam kelompok masyarakat, dua relawan, serta Search And Rescue (SAR) Klaten. Total bantuan senilai Rp 1 miliar.
“Dana bantuan tersebut berasal dari dana sisa penanggulangan bencana Kabupaten Klaten yang nilainya Rp1,7 miliar,” ujar Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten, Joko Rukminto.
Bupati Klaten Sunarno, mengatakan pemberian bantuan tersebut bertujuan untuk memulihkan kembali perekonomian sekaligus memberdayakan warga terdampak langsung erupsi Merapi di Kecamatan Kemalang. “Mudah-mudahan bantuan itu bisa bermanfaat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Klaten juga menyerahkan surat ijin siaran sebagai tanda diresmikannya Radio di Pos Pantauan Induk Balerante. Kegiatan itu dihadiri masyarakat, relawan, perwakilan desa dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.
Sementara itu, dalam kegiatan tersebut juga diisi dengan kirab tumpeng oleh masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa). Kegiatan itu sekaligus dalam rangka refleksi dua tahun erupsi Merapi.
 Sumber :Timlo.Net

Peringatan 2 Tahun Erupsi Merapi, 200 Gunungan Siap Dikirab

KLATEN–Sebanyak 200 Tumpeng siap dikirab dalam acara peringatan dua tahun erupsi Merapi, yang akan berlangsung di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Senin (5/10/2012) mendatang.
Kirab tersebut akan melibatkan Paguyuban Kawulo Keraton Surakarta (Pakasa). Kepala bagian (Kabag) Humas, Pemkab Klaten, Herlambang Jaka Santosa, ketika ditemui Solopos.com, di ruangannya Jumat (2/11/2012) mengatakan dipilihnya Desa Balerante tersebut dikarenakan desa itu merupakan desa yang terkena dampak paling parah pada erupsi Merapi 2012 lalu. Saat itu puluhan rumah rusak dan terbakar akibat terkena wedus gembel.
Selain melakukan kirab gunungan, acara tersebut juga dimeriahkan dengan pameran foto dan barang-barang sisa erupsi Merapi 2010 lalu. Rencananya beberapa produk batik khas dari Balerante juga akan dipamerkan dalam acara tersebut. Tak hanya itu pada acara tersebut juga akan dilakukan pementasan tarian tradisional gambyong dan kuda lumping.
“Nantinya juga akan ada sambung rasa, dengan melibatkan, organisasi kemasyarakatan, Bupati, BPBD, SAR Klaten dan BPPTK Jogja. Sedangkan malam harinya akan dilakukan dzikir dan doa bersama untuk warga yang terdampak erupsi Merapi,” kata Herlambang.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Klaten, Joko Rukminto, mengatakan pada peringatan erupsi Merapi tersebut, BPBD akan memberikan bantuan kepada relawan. Bantuan tersebut berupa peralatan Search and Rescue, untuk menunjang penyelamatan bagi relawan yang bertugas di Merapi.
“Untuk memberikan bantuan tersebut dianggarkan uang Rp400 juta. Semoga nantinya peralatan tersebut bisa membantu para relawan saat Merapi kembali bergejolak,” ujar Joko.

Kamis, 06 Januari 2011

Bukit Putih Masih Mengancam

KLATEN – Bukit Putih yang berada di antara Kecamatan Ngawen (Gunungkidul) dan Kecamatan Cawas (Klaten) masih terancam longsor lagi, setelah sehari sebelumnya longsor dan menewaskan seorang warga. Curah hujan yang masih tinggi dengan tekstur tanahnya yang labil, dapat membuat bebatuan dan lumpur kembali menerjang ke hunian warga.Pantauan koran ini di lokasi longsoran, puluhan warga nekat menerjang garis polisi dalam radius 100 meter dari kawasan rawan longsor. Ada yang penasaran ingin melihat bekas longsoran, tidak sedikit pula yang hanya iseng berfoto di lokasi bencana. 
Kepada mereka, petugas dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) harus meneriakinya untuk menjauh. Salah seorang warga di lokasi, Wahyu, 28, mengaku ingin menyaksikan sendiri longsornya Bukit Putih yang telah menewaskan seorang warga setempat itu. ”Dengarnya dari orang-orang. Katanya bukit Bukit Putih longsor,” ujar dia, Senin (3/1).
Menurut Komandan Search And Rescue (SAR) Klaten Pandu Wirabangsa, Bukit Putih berpotensi longsor kembali karena curah hujan yang masih tinggi. ”Struktur tanahnya labil, ditambah hujan yang mengguyur dapat menyebabkan longsor susulan. Untuk itu patuhilah imbauan petugas di sana. Jangan melanggar garis polisi dalam radius rawannya!”ujar dia, kemarin.
Pada bagian lain, sebanyak 141 jiwa warga Dusun Mundon Desa Tancep Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, DIJ beralih ke kantor desanya Senin kemarin, setelah sebelumnya mengungsi ke SDN I Burikan Cawas. Mereka merupakan penduduk yang berhunian di bawah bukit yang terletak di perbatasan Klaten-Gunungkidul, DIJ itu. 
Akibat longsor pada Minggu (2/1) sore, satu rumah rusak tertimbun lumpur dan batu, sementara dua rumah lainnya rusak. Seorang warga setempat, Sugito Tinoyo (70) tewas di dalam rumahnya dan baru dapat dievakuasi Senin kemarin pukul 06.40 WIB. Tim evakuasi juga menemukan satu mayat kambing, tidak jauh dari reruntuhan rumah Sugito Tinoyo. Jasad yang ditemukan terkubur lumpur dan tanah serta reruntuhan bangunan.
Salah seorang pengungsi, Gunawan, 29, mengatakan belum berani menempati rumahnya karena separohnya telah hancur diterjang longsor. ”Keluarga saya untuk sementara mengungsi dahulu. Menunggu alat berat datang untuk mengeruk,”ujar dia. 
Diceritakannya, longsor kemarin merupakan yang terbesar sejak kejadian 2006 lalu. Ia juga merasa khawatir terjadi longsor susulan, karena rekahan akibat gempa 2006 lalu terus melebar.
Sekretaris Desa Burikan Kecamatan Cawas Klaten Joko Sutana mengingatkan warga di sekitar lokasi rawan untuk bersiaga pascalongsor kemarin.”Meskipun tidak berada tepat di bawah bukit, tapi untuk jaga-jaga saja. Karena lumpur dan batu bisa mencapai ratusan meter dari kaki bukit,”ujar dia. Dia memperkirakan ada 250 warga yang tinggal di radius 100 meter dari bukit. Kepada mereka, dia meminta untuk ekstra waspada. (jko)

Warga Klaten Diminta Waspadai Longsor Bukit Putih

KLATEN--MICOM: Penduduk Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang berada di radius 100 meter dari Bukit Putih diminta waspada saat curah 
hujan tinggi, karena bukit itu berpotensi longsor. 



"Mengingat tekstur tanah di bukit itu labil, longsor susulan bisa terjadi jika curah hujan tinggi. Karena itu, warga yang tinggal di radius 100 meter dari kawasan rawan longsor itu harus menjauh," kata Komandan Search and Rescue (SAR) Klaten Pandu Wirabangsa di Kantor Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten, Selasa (4/1). 



Pada Minggu (2/2) sore bukit yang berada di perbatasan Kabupaten Gunungkidul dan Klaten itu longsor akibat hujan deras. Seorang penduduk Dusun Mundon, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, bernama Gito Tinoyo, 70, tewas dalam musibah tersebut. Satu rumah milik korban tertibum dan dua rumah warga lainnya rusak diterjang lumpur dan batu. 

Sejak terjadi longsor, warga yang bertempat tinggal di bawah bukit ketakutan pada saat hujan. Karena itu, menurut Sekretaris Desa Burikan Joko Sutono, warga kini mengaktifkan kembali kegiatan ronda. "Ini bentuk kewaspadaan warga jika sewaktu-waktu terjadi longsor," ujarnya. (OL-01) 



Senin, 03 Januari 2011

Evakuasi korban longsor di Dusun Mundon, Desa Tancep, Ngawen







KLATEN - Satu warga Dukuh Mundon, Desa Tancep, Kecamatan  Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tewas tertimbun longsor di rumahnya. Korban bernama Sugito (60), belum berhasil dievakuasi oleh petugas.

Kejadian bermula saat hujan deras mengguyur wilayah yang berbatasan dengan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten sekira pukul 16.00 WIB. Akibatnya sebuah bukit diatas desa longsor.

Sebanyak dua rumah tertimbun material longsoran, satu rumah diantaranya bahkan sudah hilang tertimbun. Sugito yang saat itu berada pada salah satu rumah tidak sempat menyelamatkan diri saat material longsoran datang.

Camat Cawas, Priharsanto mengatakan Desa Mundon juga terkena dampak longsor, yaitu aliran lumpur yang cukup tinggi menggenangi wilayah desa. "Ada dua kepala keluarga yang tinggal di tempat rawan. Tapi sekarang sudah diungsikan," ujarnya, Minggu (2/1/2011) malam.

Saat ini tim gabungan dari SAR, Kesbangpolinmas, dan PMI serta masyarakat setempat masih berusaha mengevakuasi korban. Namun karena hujan yang terus mengguyur kegiatan tersebut sedikit terhambat.
(Nazarudin Latief/Koran SI/fer)

Minggu, 19 Desember 2010

Tsunami Mentawai : Rekaman Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Bencana

Bencana Tsunami di Kepulauan Mentawai memang cukup dahsyat. Hingga kini terhitung ada ratusan korban meninggal dan hilang. Bencana tsunami 25 Oktober 2010 ini di dahului dengan gempa bumi berkekuatan 7,7 MW (sesuai catatan USGS) pada pukul 21:42 waktu lokal.



Gempa bumi mentawai berpusat di 150 mil (240 km) sebelah barat Bengkulu. USGS awalnya melaporkan episentrum gempa bumi terjadi pada kedalaman 20.5 mil (33,0 km),tapi kemudian melaporkan bahwa kedalaman episentrum gempa pada kedalaman 8.8 mil (14,2 km) dan kemudian 12.8 mil (20,6 km). USGS juga awalnya memperkirakan magnitudo gempa 7,5 skala richter sebelum merevisi menjadi 7,7 skala richter.
Berikut adalah rekaman citra satelit sebelum dan sesudah bencana tsunami di Kepulauan Mentawai :
Before the tsunami (IKONOS image acquired on 23 Jul 2006)
After the tsunami (GEOEYE 1 image acquired on 28 Oct 2010)

Analisis Citra Satelit Dampak Kerusakan Letusan Gunung Merapi

Digital Globe telah merilis koleksi citra satelit rekaman letusan Gunung Merapi termasuk dengan analisis citra kerusakan sebagai dampak dari letusan tersebut. Analisis tersebut tersedia dalam format PDF 9 halaman yang bisa di download gratis. Contoh salah satu analisis tampak pada gambar di bawah ini.



Citra satelit yang di publish oleh Digital Globe tersebut memiliki tanggal rekam 11 November 2010.Tersedia pula overview infrared pada citra tersebut.  Selain itu, ada juga citra satelit sebelum letusan dengan tanggal rekam 6 September 2006. DigitalGlobe juga telah mengupload galeri citra satelit letusan Gunung Merapi di Flickr.



CRISP National University of Singapore juga telah mengupdate citra satelit pasca letusan Gunung Merapi dengan citra GeoEye-1 tanggal akuisisi 15 november 2010. Selain itu ada juga citra SPOT 5 dengan terrain view tanggal akuisisi 15 November 2010. Selengkapnya silahkan lihat DISINI.

Rekaman Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Letusan Gunung Merapi

Erupsi eksplosif Gunung Merapi terus terjadi hingga saat postingan ini dituliskan. Terakhir terjadi kemarin Rabu (3/11/2010) pukul 16.05, yang menghasilkan luncuran awan panas berskala lebih besar daripada letusan pertama, 26 Oktober lalu. Letusan diikuti perluasan radius bahaya dari yang semula 10 kilometer menjadi 15 km dari puncak Merapi.



Gunung Merapi adalah gunung yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.
Letusan pada November 1994 menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. [wikipedia]
Berikut adalah rekaman citra satelit IKONOS sebelum letusan Gunung Merapi 7 Juli 2008 dan setelah letusan pada 28 Oktober 2010 :


Before the erruption (7 Jul 2008)



After the erruption (28 Oct 2010)

Senin, 13 Desember 2010

KEPUTUSAN PENURUNAN STATUS AKTIVITAS G. MERAPI DARI AWAS KE SIAGA PER 3 DESEMBER 2010


KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
BADAN GEOLOGI
JALAN DIPONEGORO NO. 57 BANDUNG 40122
JALAN JEND GATOT SUBROTO KAV. 49 JAKARTA 12950
Telepon: 022-7212834, 5228424,021-5228371 Faksimile: 022-7216444, 021-5228372 E-mail: geologi@bgl.esdm.go.id


Nomor : 3120/45/BGL.V/2010 3 Desember 2010
Sifat : Penting
Lampiran : 1 berkas
H a l : Penurunan status aktivitas G. Merapi
dari Awas ke Siaga
Yang terhormat,
1. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
2. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
3. Gubernur Jawa Tengah
4. Bupati Sleman
5. Bupati Magelang
6. Bupati Klaten
7. Bupati Boyolali

Bersama ini disampaikan dengan hormat hasil evaluasi data pemantauan aktivitas G. Merapi
hingga 2 Desember 2010, sebagai berikut:

I. Pendahuluan
Gunungapi Merapi merupakan gunungapi tipe strato, dengan ketinggian 2980 meter dari
permukaan laut (sebelum erupsi 2010). Secara geografis terletak pada posisi 7° 32.5’ Lintang Selatan dan 110° 26.5’ Bujur Timur, secara administratif terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.
Status aktivitas G. Merapi ditingkatkan dari Aktif Normal menjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010, ditingkatkan menjadi Siaga pada 21 Oktober 2010 dan kemudian menjadi Awas pada 25 Oktober 2010 pukul 06:00 WIB. Erupsi pertama terjadi pada 26 Oktober 2010 pukul 17:02 WIB kemudian disusul dengan rangkaian erupsi lainnya dengan erupsi terbesar terjadi pada tanggal 5 November 2010.

II. Hasil Pemantauan
Berikut disajikan uraian singkat hasil pemantauan G. Merapi hingga tanggal 2 Desember
2010, meliputi data pemantuan secara instrumental dan visual.

1. Kegempaan
Berdasarkan data kegempaan (lampiran, gambar 1) dari berbagai stasiun seismik di sekitar G. Merapi, dapat disimpulkan sebagai berikut:
 Terjadi penurunan jumlah dan energi gempa vulkanik.
 Terjadi penurunan gempa fasa banyak (multiphase / MP) yang menandakan penurunan aliran fluida
     (gas, uap dan magma).
 Terjadi penurunan jumlah kejadian guguran yang menandakan puncak G. Merapi menuju kestabilan atau
    tidak menunjukkan adanya deformasi yang signifikan.
 Terjadi penurunan amplituda dan kejadian tremor yang semula menerus, saat ini tidak lagi menerus.
 Terjadi penurunan kejadian awan panas, dengan demikian terjadi penurunan ancaman bahaya erupsi
     G. Merapi.
 Data RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) yang merupakan pencerminan energi getaran
     vulkanik menurun secara tajam (gambar 2). Hal ini menunjukkan adanya penurunan energi getaran yang
     berasal dari dinamika fluida (gas, uap dan magma).
 Spektrum tremor sebelum, pada saat dan setelah letusan (gambar 3) menunjukkan adanya variasi yang
    menuju ke kestabilan dinamika fluida. Dengan demikian, tekanan fluida menurun dan menuju ke arah stabil.

2. Deformasi
Deformasi tubuh G. Merapi dipantau secara instrumental dengan tiltmeter (alat ungkit) yang dipasang di Museum G. Merapi sekitar 8 km selatan G. Merapi (gambar 4).
Pada komponen radial, data sebelumnya menunjukkan adanya deflasi (penurunan) yang mencerminkan terjadinya pengempisan bagian puncak G. Merapi, kemudian data relatif datar yang menunjukkan kecenderungan stabil. Pada komponenn tangensial, data sebelumnya menunjukkan adanya inflasi (pengembungan) kemudian datar yang berarti tidak ada deformasi signifikan pada kantung magma bagian dalam.

3. Visual
Pemantauan visual dilakukan secara langsung dari pos pengamatan darurat di Ketep dan Manis Renggo dan pemantauan dengan CCTV (closed circuit televisi) di Kaliurang dan Deles. G. Merapi seringkali tertutup kabut, namun pada saat cuaca terang terpantau asap letusan dengan ketinggian kurang dari 500 meter dari kawah G. Merapi dengan tekanan lemah hingga sedang dan tertiup angin dominan ke arah barat.

4. Emisi Gas SO2
Pantauan emisi gas SO2 G. Merapi di udara dari Satelit OMI dan AIRS (gambar 5) menunjukkan tingkat emisi maksimum yang terjadi pada 6 November 2010 dengan massa sebesar 250-300 kiloton. Sejak saat itu emisi gas SO2 di udara berangsur menurun dan hingga saat ini emisi gas SO2 G. Merapi tidak lagi terdeteksi oleh satelit.

5. Bahaya Lahar Hujan
Volume endapan material erupsi G. Merapi tahun 2010 sekitar 150 juta m3 yang jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi berpotensi menyebabkan aliran lahar hujan yang dapat mengancam pemukiman penduduk serta masyarakat yang beraktivitas di bantaran sungai-sungai yang berhulu di Puncak G. Merapi. Secara umum, endapan lahar telah teramati di semua sungai yang berhulu di puncak G. Merapi dari arah Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, hingga Barat Laut, meliputi K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu. Telah tercatat beberapa kejadian banjir lahar yang diantaranya menyebabkan kerusakan pada beberapa jembatan.

III. Kesimpulan
Berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan G. Merapi secara instrumental dan visual, disimpulkan bahwa aktivitas G. Merapi menunjukkan penurunan. Dengan menurunnya aktivitas tersebut, maka terhitung mulai tanggal 3 Desember 2010 pukul 09.00 WIB, status aktivitas G. Merapi diturunkan dari tingkat “AWAS” menjadi “SIAGA”. Dalam tingkat “SIAGA” masih berpotensi adanya ancaman bahaya primer berupa erupsi
dengan awanpanas dan lontaran material pijar. Perkiraan jika terjadi aliran awan panas akan mengarah ke sektor selatan meliputi K. Gendol, K. Kuning dan K. Boyong. Potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan dapat terjadi di semua alur sungai yang berhulu di G. Merapi.

IV. Rekomendasi
Dengan penurunan status aktivitas G. Merapi menjadi “SIAGA”, kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai
berikut :

1. Tidak ada kegiatan di daerah Kawasan Rawan Bencana III G. Merapi (KRB sementara, terlampir) dalam radius 2.5 km dari puncak G. Merapi. Lebih khusus
pada KRB III sementara di wilayah Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Ngemplak dan Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

2. Wilayah bahaya lahar berada pada jarak 300 meter dari bibir sungai yang berhulu di puncak G. Merapi meliputi K. Woro (Kab. Klaten), K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong (Kab. Sleman), K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising (Kab. Magelang), dan K. Apu (Kab. Boyolali). Pada saat terjadi hujan di sekitar G. Merapi, guna mengurangi risiko bahaya lahar hujan, masyarakat tidak
melakukan kegiatan pada wilayah bahaya lahar tersebut.

3. Kerena banyak pemukiman penduduk yang terlanda awanpanas, maka pemerintah daerah agar melakukan penataan ruang ulang dengan mengacu pada Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

4. Jika terjadi peningkatan atau penurunan aktivitas G. Merapi maka status aktivitas G. Merapi akan dinaikkan atau diturunkan.

5. Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat atau ke kantor BPPTK, Jalan Cendana No. 15, Yogyakarta, telefon: (0274) 514180.

6. Pemerintah daerah harap menyosialisasikan rekomendasi ini kepada masyarakat. Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

a.n. Kepala Badan Geologi
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi
Dr. Surono
NIP. 19550708 198403 1 003
Tembusan:
1. Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral
2. Kepala Badan Geologi
3. Sekretaris Badan Geologi
4. Direktur Manajemen Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, KEMENDAGRI
5. Deputi I Menko Kesra Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial
6. Biro Hukum dan Humas, KESDM
7. Mabes TNI
8. Pusat Data dan Informasi, KESDM
9. Kepala Pusat Krisis, Kementerian Kesehatan
10. Badan Kesbanglinmas, Provinsi DIY
11. Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Provinsi Jawa Tengah
5
LAMPIRAN



Gambar 1. Grafik kegempaan G. Merapi 1 Oktober – 2 Desember 2010






Gambar 2. Data RSAM kumulatif per hari, 12 Oktober – 2 Desember 2010






Gambar 3. Spektrum tremor G. Merapi dari Stasiun Seismik Plawangan





Gambar 4. Data tiltmeter komponen tangensial (atas) dan komponen radial (bawah)





Gambar 5. Emisi gas SO2 di udara berdasarkan data satelit OMI dan AIRS






Gambar 6. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi sementara



Sumber: BPPTK